Diklat Guru, Diklat Pendikan, Diklat Daring, Seminar Online, Seminar Guru, Seminar Pendidikan

Masih ingatkah Anda dengan sebuah film pendidikan yang diambil dari sebuah novel yang berjudul laskar pelangi, novel pertama karya Andrea Hirata yang diterbitkan pada tahun 2005, novel ini bercerita tentang kehidupan 10 anak dari keluarga miskin, mereka bersekolah dan belajar pada kelas yang sama dari kelas 1 SD sampai kelas 3 SMP, dan menyebut diri mereka sebagai laskar pelangi. Cerita terjadi di desa Gantung, Belitung Timur.

Di mulai ketika sekolah Muhammadiyah terancam akan dibubarkan oleh Depdikbud Sumsel jikalau tidak mencapai siswa baru sejumlah 10 anak. Ketika itu baru 9 anak yang menghadiri upacara pembukaan, akan tetapi tepat ketika pak harfan, sang kepala sekolah hendak menutup sekolah, Harun dan ibunya datnag untuk mendaftarkan diri di sekolah kecil itu. Mereka laskar pelangi nama yang diberikan Bu Muslimah akan kesenangan mereka terhadap pelangi .

Namun yang ingin saya bahas lebih jauh yaitu tentang kisah guru dari laskar pelangi, seorang guru yang telah berhasil mencetak murid-murid yang bermental juara, berikut ini sekilas tentang kisah Bu Muslimah.

“Bu mus menekuni dunia pendidikan bukan karena memburu materi, tapi karena naluri peduli pada tanggung jawab mencerdaskan anak-anak desanya. Ia mulai mengajar pada umur 15 tahun. Saat itu tahun 1970, ia baru lulus sekolah kepandain putri (SKP), sekolah keterampilan menjahit dan menyulam, suatu pagi pukul 08.00 lebih sedikit, saat menjahit pakaian, ia menyaksikan  anak-anak SDN 2 di kampungnya, sudah pada pulang sekolah. Muslimah tergerak bertanya, mengapa mereka pada pulang. Ternyata gurunya kosong karena sedang melaut mencari ikan.

Melihat banyak anak murid yang sering ditinggalkan gurunya, Muslimah merasa kasihan lalu minta izin ke ayahnya, yang menjadi kepala SDN 1 untuk mengajar di SDN 2, Ayahnya mempersilahkan. Muslimahpun mulai mengajar sebagai guru honorer. Sorenya hingga malam, ia mengerjakan order jahitan baju. Langkah muslimah ini ternyata mengundang simpati anak muda lain di desanya untuk juga mengajar. Ada dua anak muda yang juga tergerak ikut mengajar di SDN 2.

Setelah 2 tahun menjadi guru honorer, tahun 1971, SD Muhammadiyah berdiri. Karena di SDN 2 saat itu sudah banyak yang membantu mengajar, Muslimah diminta ayahnya untuk mengajar di SD Muhammadiyah, Muslimahpun pindah, tak banyak guru yang mampu bertahan di SD Muhammadiyah. Setelah sebulan  menerima gaji banyak yang lalu mundur teratur, Muslimah, misalnya  digaji Rp. 3000 sebulan, setara dengan 15 kilogram beras, itupun bila bayaran para murid penuh. Kalau tak penuh, Muslimah kadang hanya dibayar Rp. 1300. Namun semua itu tak menyurutkan semangatnya mengajar, ia pun kemudian diangkat menjadi PNS. Sebagai guru negeri gajinya juga tak selalu lancar. Gaji sering datang dua bulan sekali. Tapi ia tetap sabar Komitmen mendidik telah mendarah daging dalam dirinya hingga kini. (The Phenomenon Laskar Pelangi)

Maka sangat wajar jika Bu Muslimah mampu membentuk muridnya sekelas Andrea Hirata dkk, dia telah berhasil menanamkan jiwa tak kenal menyerah, jiwa yang haus akan ilmu pengetahuan hingga muridnya berhasil dan membawa nama baik sekolahnya, berkat perjuangannya itulah ia menjadi sumber inspirasi untuk guru-guru yang lain dan ia memberikan keteladanan bahwa setiap siswa itu unik dengan potensi yang mereka miliki.

Selain itu kisah perjuangan Bu Muslimah dalam mendidik juga memberikan dampak besar dalam dunia pendidikan bahwa sekolah yang kurang dalam fasilitas juga bisa menjadi juara, dengan semangatnya itulah menjadi pembuktian bahwa belajar tak mesti selalu dengan fasilitas yang memadai yang terpenting adalah menanamkan jiwa-jiwa pembelajar bagi para siswanya.

Ditulis oleh : Riswanto, Ch, Cht, SE, MM

Diklat Guru, Diklat Pendikan, Diklat Daring, Seminar Online, Seminar Guru, Seminar Pendidikan