Diklat online, diklat guru, diklat pendidikan, diklat daring, seminar online, seminar guru, seminar pendidikan,

Lelaki tua itu akhirnya merenggut takdirnya. Roket-roket Yahudi mungkin telah meluluhlantakkan

tubuh lumpuhnya. Tapi mereka keliru. Sebab nafas cintanya telah memekarkan bunga-bunga jihad

di Palestina. Sebuah generasi baru tiba-tiba muncul ke permukaan sejarah dan hanya tahu satu kata:

jihad. Dan darahnya yang tumpah setelah fajar itu, adalah siraman Allah yang akan menyuburkan

taman jihad di bumi nabi-nabi itu. Dan tulang belulangnya hanya akan menjadi sumbu yang

menyalakan api perlawanan dalam jiwa anak-anak Palestina.

Syeikh Ahmad Yasin, lelaki tua dan lumpuh itu, adalah keajaiban cinta. la hanya seorang guru

mengaji. Tapi dialah sesungguhnya bapak spiritual yang menyalakan api jihad di Palestina. Ia tahu,

perjuangan Palestina telah dinodai para oportunis yang menjual bangsanya. Tapi ia tetap harus

melawan. Dan lumpuhnya bukan halangan. Maka ia pun meniupkan nafas cintanya pada bocahbocah

Palestina yang ia ajar mengaji. Dari tadarus Qur’an yang hening dan khusyu’ itulah, lahir

generasi baru di bawah bendera Hamas. Palestina memang belum merdeka. Tapi ia telah

merampungkan tugasnya: perang telah dimulai. Ketika akhirnya ia syahid juga, itu hanya jawaban

Allah atas doa-doanya.

Letaki tua itu mengingatkan aku pada syair Iqbal:

Tak berwaktu cinta itu, kemarin dan esok teriepas daripadanya

Tak bertempat ia, atas dan bawah terlepas daripadanya

Bila ia mohon pada Tuhan akan keteguhan dirinya

Seluruh dunia pun menjadi gunung, dan ia sendiri penunggang kuda

(Serial Cinta Anis Matta)

Kisah diatas mengingatkan kita akan peran besar seorang guru, guru yang tak hanya sekedar mengajar akan tetapi peran guru bukan hanya itu, ia memilki peran besar untuk membentuk generasi-generasi yang berakhlak yang mulia, generasi yang tak hanya pandai dari segi intelektulitas tetapi juga generasi yang mampu mengajak manusia kepada jalan kebaikan.

Kalau mengajar tujuannya hanya untuk membuat muridnya pandai maka kekecewaan yang akan didapatkannya ketika muridnya tak juga pandai, namun lebih dari itu guru adalah sosok yang mampu memberikan keteladanan yang baik dalam perilakunya, karena perbuatan kita lebih dicontoh ketimbang dengan kata-kata baik yang kita ucapkan.

Umur kita begitu singkat kalau kita sebagai guru hanya sekedar mengajar maka teramat merugilah kita, kalau mengajar hanya sekedar aktivitas dan rutinitas maka kejenuhanlah yang kita dapatkan, kalau mengajar hanya untuk menunaikan kewajiban sebagai pegawai  maka hanya materilah yang kita dapatkan.

Karena sejatinya ilmu yang kita ajarkan akan terus ada meskipun penyampai ilmunya itu telah tiada, ilmu itulah yang akan menjadi amal yang terus-menerus mengalir dari satu generasi ke generasi yang lain, maka semestinyalah ilmu yang kita berikan adalah ilmu yang bernilai kebaikan yang kelak bermanfaat sampai kapanpun, dan tentunya ilmu tersebut adalah ilmu yang akan membuat murid kita beretambah keimanannya pada siapa yang menciptakannya.

Ilmu yang kita berikan bukanlah sekedar ilmu yang bermanfaat bagi dunianya tetapi ilmu tersebut bernilai kebaikan yang membuat akhlaknya bertamabah mulia, karena sejatinya ilmu yang bermanfaat itu adalah ilmu yang mengantarkan murid kita lebih mengenal siapa sejatinya pemilik ilmu tersebut.

Guru yang terbaik bukanlah guru yang sekedar membuat muridnya pandai namun lebih dari itu sejatinya ia memilki cita-cita untuk membangun sebuah peradaban dari ilmu yang ia ajarkan, kelak dari apa yang ia ajarkan itu akan terbentuk pribadi-pribadi mulia, pribadi dambaan bangsa yang cerdas intelektual juga berakhlak mulia.

Ditulis oleh : Riswanto, Ch, Cht, SE, MM

Diklat online, diklat guru, diklat pendidikan, diklat daring, seminar online, seminar guru, seminar pendidikan,